Minggu, 06 Februari 2011

Fisiologi Kelenjar Susu

Jaringan kelenjar susu dapat memberikan peluang untuk mempelajari fungsi dasar fisiologi sel dan system organellanya. Jaringan kelenjar susu tersebut berbeda dengan jaringan-jaringan yang lain dalam hal pertumbuhannya sebagian besar terjadi pada saat ternak betina telah mencapai pubertas (Prihadi,1997).

Kelenjar susu merupakan kelenjar tambahan sistama reproduksi. Dalam kondisi yang normal kelenjar susu akan berkembang setelah sistema reproduksi beroperasi atau berfungsi. Pada ternak yang berplasenta perkembangan kelenjar susu sebagian besar terjadi setelah ternak mulai bunting. Pertumbuhan jaringan kelenjar susu dibawah pengaruh hormon-hormon. Namun tidak diketahui apakah kadar hormon dalam darah selama bunting mempengaruhi besarnya perkembangan kelenjar susu atau hormon-hormon tersebut berfungsi hanya sebagai perangsang atau kunci yang merangsang material genetik dalam asam deoksiribonucleat (DNA) dalam sel kaitannya dengan pembelahan sel untuk pertumbuhan kelenjar susu (Prihadi,1997).

Sekresi susu yang berkelanjutan diatur oleh beberapa faktor. Jumlah susu yang diproduksi dan komposisi dapat ditingkatkan dengan mengadakan perubahan status hormon dan nutrisi ternak. Hormon-hormon somatotrophin dan thyroxine meningkatkan produksi susu sapi perah. Untuk mempertahankan kontinueitas sekresi susu, susu yang telah disekresikan harus dikeluarkan secara periodik. Pengeluaran susu dari kelenjar susu pada sebagian besar mammalia memerlukan ransangan pada sistema syaraf melalui sistema penyusunan oleh anaknya atau pemerahan. Ransangan pada syaraf memacu pelepasan hormon oxitocin yang menyebabkan sel myoepithel yang mengelilingi alveolus berkontraksi dan memeras susu keluar dari alveoli menuju ke saluran susu (Prihadi,1997).

Karena kelenjar susu merupakan kelenjar kulit, pembuluh darah utama yang menghubungkan kelenjar dengan tubuh terbatas dengan sedikit arteri dan vena. Hal ini memungkinkan untuk mengukur aliran yang terjadi pada komposisi darah yang masuk dan yang meninggalkan kelenjar susu (Prihadi,1997).

Ambing adalah suatu kelenjar kulit yang tertutup oleh bulu, kecuali pada putingnya. Ambing tanpak sebagai kantung yang berbentuk persegi empat (Prihadi,1997). Ambing seekor sapi betina terbagi menjadi empat kuartir yang terpisah. Dua kuartir bagian depan biasanya berukuran 20% lebih kecil dari kuartir bagian belakang dan kuartir-kuartir itu bebas satu sama lain (Blakely,1991).

Ambing terbagi menjadi dua bagian kiri dan kanan terpisahkan oleh satu lekukan yang memanjang, yang disebut intermammary groove. Diambing sering dijumpai adanya puting tambahan (extra teat) diluar empat yang normal dari maisng-masing kuartir. Puting tambahan biasanya berada dibelakang puting belakang atau kadang-kadang diantara puting depan dan belakang (Prihadi,1997).

Menurut Soetarno (1999) kuartir sebelah kanan dan sebelah kiri dipisahkan oleh membrane yang tebal yang disebut tenunan penyakit “septum media” (median susupensory) yang menjulur keatas bertautan pada dinding perut, sehingga merupakan alat penggantung bagi ambing. Bagian ambing kanan dan kiri masing-masing dipisahkan menjadi dua bagian oleh suatu membrane yang amat tipis (fine membrane)

Ambing sapi terdiri dari dua tenunan atau jaringan yaitu “tenunan kelenjar” yang menghasilkan susu dan tenunan pengikat berfungsi sebagai kerangka. Tenunan kelenjar susu dan tenunan pengikat disatukan dan terbungkus oleh kulit berfungsi sebagai pelindung (Soetarno,1999).

System tenunan kelenjar susu terdiri dari rongga putting, rongga ambing, saluran susu besar dan alveoli. Sedang system tenunan pengikat terdiri dari sekelompok alveolus-alveolus atau alveoli terbungkus oleh membran yang tipis berbentuk lobulus. Lobulus-lobulus atau lobuli, satu dengan yang lainnya juga terbungkus oleh membran yang tipis. Dari banyak lobuli yang terbungkus oleh membran tipis tersebut terbentuk lobus. Membran yang tipis membungkus alveoli atau lobuli dan semua tenunan atau jaringan pengikat yang ada pada tenunan kelenjar susu merupakan sistema tenunan pengikat yang berfungsi sebagai kerangka dari tenunan kelenjar susu (Soetarno,1999).


DAFTAR PUSTAKA

Blakely, J and D.H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan, edisi ke- 4. Gadjah Mada University Press. Jogjakarta.

Prihadi, S. 1997. Dasar Ilmu Ternak Perah. Fakultas Peternakan UGM. Jogjakarta.

Sutarno, T. 1999. Manajemen Ternak Perah. Fakultas Peternakan UGM. Jogjakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger