Sabtu, 05 Februari 2011

Komoditas Ternak Kambing


Sistematika
Sistematika komoditas kambing adalah:
Phylum : Chordata
Sub phyluum : Vertebrata
Class : Mamalia
Sub class : Theria
Ordo : Artidactyla
Sub ordo : Pecara
Sub Class : Hacentalia
Genus : Capra
Famili : Capridae
Spesies : Capra hircus
Capra prica
Capra faleconeri
(Blakely and David, 1991).

Bangsa – bangsa dan Asal - usul
Kambing merupakan hewan-hewan pertama yang didomestikasi oleh manusia. Kambing berasal dari hewan liar (Capra Hircus Aegagrus), yang hidup didaerah yang sangat sulit dan berbatu. Diperkirakan pada permulaannya pemburu-pemburu pulang membawa anak kambing dari hasil buruannya. Anak-anak kambing itu dipelihara didesa sebagai hewan kasayangan, kemudian dimanfaatkan untuk diambil susu, daging dan kulitnya (Blakely and David, 1991).

Kambing sifatnya unik, karena mudah dipelihara, hanya memerlukan lahan yang tidak luas dan sangat tangguh. Kambing makan makanan yang tidak biasa dikonsumsi oleh hewan lain. Makanan utama kambing adalah tunas-tunas (semak-semak, ranting-ranting, gulma). Selain itu kambing sangat efisien dalam mengubah makanan berkualitas rendah menjadi produk yang bernilai tinggi. Jadi kambing menghasilkan produk-produk pertanian dari tanah yang tidak produktif menjadi produktif (Sarwono, 1993).

Kambing asli Indonesia


Kambing kacang memiliki ciri telinga kecil dan garis punggung lurus arah meninggi pada pangkal ekor. Kambing kacang mempunyai tubuh kecil kepala kecil dan ringan, kulit tipis bulu kasar, telinga pendek, tanduk kecil dan lurus serta kaku tegak dan kedepan samping, dan yang paling terpenting untuk ciri khusus dipunggung terdapat garis belut warna hitam (Supriono, 1993). Kambing jantan dewasa tingginya sekitar 60 sampai 75cm, bobot badannya sekitar 25kg, sedangkan tinggi betina dewasa sekitar 50 sampai 56cm dengan bobot rata-rata 20kg (Hardjosubroto, 1994).

Kambing import


Kambing Ettawa disebut juga kambing jamnapari, adalah jenis kambing yang sangat terkenal dan tersebar luas untuk produksi susu di India, Asia tenggara dan Negara-negara lain. Kambing ini besar, bertelinga panjang dan menggantung, profil muka cembung, warna bulu bervariasai, coklat hitam (Supriono, 2000).

Kambing Saanen. Kambing Saanen berasal dari lembah saanen di Swiss. Kambing ini sangat terkenal berwarna putih dengan bulu yang panjang atau pendenk. Telinganya tegak dan tajam. Kambing ini merupakan kambing asal Swiss yang terbesar dengan berat lebih dari 65 kg pada saat dewasa kelamin. Menonjol karena jumlah (produksi) susunya banyak, tetapi lemak susunya agak rendah (Blakely and Bade, 1991).

Kambing angora berasal dari Ankara, Turki. Daerah pegunungan dengan iklim kering dan temperature yang extrim. Baik yang jantan dan betina semua bertanduk dengan dahi terbuka dengan bulu yang panjang. Bulu kambing Angora disebut Mohair. Berat kambing jantan saat dewasa kelamin 55 sampai 80kg dan kambing betina mencapai dewasa kelamin dengan berat 35 sampai 40kg (Blakely and David, 1991).

Kambing persilangan.

Kambing PE. Kambing PE atau Kambing Peranakan Ettawa adalah salah satu bangsa kambing yang paling potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Kambing PE merupakan hasil persilangan antara Kambing Ettawa asal India dengan Kambing Kacang. Selain berpotensi sebagai penghasil daging, kambing PE pun cukup potensial untuk dikembangkan sebagai penghasil susu, dengan produksi susu berkisar antara 1-3 liter per ekor per hari (Heriyadi, 2004).

Kambing Jawarandu. Kambing Bligon sering juga disebut kambing Jawarandu, yang diduga merupakan hasil persilangan antara kambing Peranakan Ettawa (PE) dan kambing Kacang. Tanda karakteristik kambing Bligon diantara kambing PE dan kambing Kacang, badan lebih besar dari kambing Kacang dengan bobot dewasa 20-30 kg, telinga agak terkulai, profil muka agak cembung, kadang-kadang bulu pada paha sedikit jumbai (bulu kasar panjang). Tubuh padat berisi dengan produksi daging tinggi. Warna coklat/merah, putih, hirtam, dan kombinasi diantara ketiga warna tersebut (Basuki, 1998).

DAFTAR PUSTAKA
Basuki, P., Nono N. dan Gatot M..1998. Dasar Ilmu Ternak Potong dan Kerja. Laboratorium Ternak Potong dan Kerja. Fakultas Peternakan UGM: Yogyakarta.
Blakely, James dan David H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Heriyadi, Denie. 2004. Standar Mutu Bibit Kambing Peranakan Ettawa. Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat dan Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran. Bandung.

Sarwono, B. 2003. Beternak Kambing Unggul. PT Penebar Swadaya. Jakarta


1 komentar:

Unknown mengatakan...

bagus sekali ekspresi wajah kambingmu
by habib nur fahmi

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger